“Ayo pak, naik kereta?”, aja aku. Bapak menggeleng, “Gak mas, bapak capek…”. “Ayo paaak, naik kereta…”, ajak aku lagi. Aku tersenyum, bapak akhirnya ngalah. Kami pun bertiga main kereta-keretaan mengelilingi rumah, sembari bernyanyi.
Sayangnya, ini bukan kereta api sungguhan. Melainkan kereta manusia. Yah benar, kami bertiga lah yang memainkan permainan ini, adik Kay, aku, dan bapak. Adik Kay berada di deretan terdepan, aku di tengah, dan bapak paling belakang. Meski hanya permainan, aku cukup menikmati. Kay dan aku menjerit kegirangan, bapak di belakang hanya tertawa.
Ah, senengnya bisa bermain seperti ini. Coba bisa setiap hari, tapi bapak sama ibu kan kerja. Mereka pernah bilang begini, “Mas, bapak sama ibu kerja cari duit, biar bisa beliin Kemal sama adik Kay susu,” kata mereka. Sampai sekarang aku masih belum mengerti, aku masih ingin main sama bapak-ibu setiap hari. Tapi ibu bilang, kalau aku sudah besar, aku pasti mengerti….


